(0362) 3428421
tejakula@bulelengkab.go.id
Kecamatan Tejakula

Rakor Pengendalian Penyakit (P2) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng di Lovina Haven Boutique Resort.

Admin tejakula | 12 Mei 2026 | 6 kali

Selasa 12 Mei 2026 mewakili Camat Tejakula Kasubag Umum dan Keuangan Kecamatan Tejakula mengikuti Rakor Pengendalian Penyakit (P2)  yang diselenggarakan oleh  Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng di Lovina Haven Boutique Resort.

Rakor di  buka oleh Bapak Sekdiskes Kabupaten Buleleng, menyampaikan  bahwa Buleleng mendapat peringkat 3 terbesar di Bali terkait  beberapa kasus penyakit  menular di tingkat Propinsi. Tahun 2025 fokus pada kasus DBD dan Rabies, Cakupan imunisasi masih belum UCI. Dalam pertemuan ada 3 narasumber yang memberikan materi:

dr Putu Arya Nugraha SpPD

Materi yang disampaikan tentang Demam berdarah

Kenali NS1

Penyakit DBD  ada bergejala dan tidak bergejala detesi dini dengan pemeriksaan cepat NS1 sudah tersedia di Puskesmas, karena ketersediaan terbatas diutamakan kelompok rentan( ibu hamil, balita dan lansia)

Kunci penyembuhan DBD penanganan dini  dan tepat, jaga imunitas dan istirahat

Tanda Klinis DBD

- Panas tinggi tiba-tiba(400C)

- Nyeri kepala nyeri sendi

- Mual kadang muntah, mata terasa berat

- Tanda ruam kullit( bintik merah di bawah kulit)

- Nafsu makan menurun

- Mimisan, syok (sudah parah)

- Bila trombosit kurang dari 100 setelah cek darah setelah hari ke-3 segera MRS

Tuntaskan dengan PSN

Kasus DBD terus meningkat setiap tahun

Faktor terjadinya penyakit ada 3 faktor  yang mempengaruhi (segi tiga epidemiologi)

1. Host (Manusia): dengan PHBS

2. Agent (Virus) : putus perkembangbiakannya dengan 3M plus,   

    pengembangan nyamuk Wolbachia

3. Environtment (lingkungan) : Kelola Sampah dengan benar

Langkah Jitu Bebas DBD

Pencegahan melalui PSN dengan 3 M plus,  gunakan lotion anti nyamuk

dr. Suciawan, Sp.A

Materi yang disampaikan tentang CAMPAK terkait Aspek Klinis, Pencegahan,Tata Laksana dan Deteksi Dini dan penemuan kasus

1) Masalah: penemuan kasus suspek menurun dan angka kematian campak meningkat

2) ituasi campak 1 dari 20 anak yang terinfeksi campak di negara berkembang meninggal, Indonesia menduduki peringkat 2 kasus terbanyak di dunia

3) Potensi penularan penyakit campak sebenarnya jauh  tinggi dibandingkan Covid-19, Penularan melalui dropplet(saat batuk dan bersin)

4) Gejala: batuk filek, mata merah, ruam kulit(mirip biang keringat) ciri khas ruam dibelakang telinga

5) Imunitas pada penderita campak akan menurun, mudah terinfeksi penyakit lain, Minum Vit A.

6) langkah yang harus dilakukan pada penderita campak agar tidak menularkan ke anak lain, jaga agar penderita tidak kontak dengan anak lain(istirahat jangan sekolah dulu ) masa inkubasi 7 hari, 

7) pastikan sudah mendapat imunisasi campak/MR  sebagai salah satu pencegahan terjangkitnya penyakit campak

dr. Rabiatul Udawiyah, Sp.KJ

Materi yang disampaikan tentang  PERAN CAREGIVER DALAM PENDAMPINGAN ODGJ

Penyakit Gangguan jiwa  cendrung meningkat, mulai dari cemas, stres sampai pada schezoprenia(kepribadian retak), kasus jarang disadari keluarga dan lingkungannya sampai banyak terjadi peristiwa bundir, karena kurang pendampingan dan pengenalan awal

Bentuk Pendampingan dan Dukungan Keluarga : 

1. Edukasi & Pemahaman: Memberikan pemahaman tentang gejala, tanda kambuh, dan pentingnya pengobatan 

2. Kepatuhan Pengobatan: Memastikan pasien rutin kontrol ke fasilitas kesehatan dan disiplin minum obat untuk mencegah putus obat.

3. Dukungan Emosional: Memberikan kasih sayang, kesabaran, dan empati tanpa menghakimi, yang krusial untuk menenangkan pasien. 

4. Lingkungan Stabil: Menciptakan suasana rumah yang tenang, harmonis, dan bebas dari konflik untuk mendukung pemulihan.

5. Perencanaan Krisis: Membantu pasien menyusun rencana tindakan jika terjadi kondisi darurat atau tanda kekambuhan.

Tujuan Pendampingan Keluarga : 

1. Mengurangi Stres Caregiver: Membantu keluarga mengatasi beban mental dan sosial dalam merawat ODGJ. 

2. Meningkatkan Kemandirian Pasien: Membantu pasien beradaptasi kembali dan beraktivitas di masyarakat. 

3. Mencegah Kekambuhan: Memastikan perawatan berkesinambungan agar pasien tidak mudah kambuh.

Langkah Pendampingan (Bagi Petugas/Kader): 

Kunjungan Rumah: Melakukan kunjungan rutin oleh tenaga kesehatan (Puskesmas/Posyandu) untuk memantau kondisi 

KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi): Memberikan penyuluhan langsung mengenai teknik penanganan ODGJ. 

Pendekatan Humanis: Melibatkan keluarga dalam diskusi mengenai perawatan, termasuk saat pemulangan dari rehabilitasi.

Program pendampingan ini sering dilakukan melalui metode Family Mental Health Nursing dan coaching kepada anggota keluarga agar mereka tidak merasa berjuang sendirian.